Berfikir Dalam Kuadran


alt
Salah satu kelemahan seorang penyiar adalah sering merasa bahwa semua orang mendengarkan dirinya sepanjang jam siaran yang bisa mencapai satu, dua jam atau lebih. Memang ada pendengar setia yang akan selalul ‘manteng’ gelombang radio selama kita siaran, berapa jam pun lamanya. Tapi rasanya tidak semua akan begitu. Sehebat apapun sebuah acara radio, jaman sudah berubah. Tidak banyak orang yang punya waktu untuk duduk diam mendengarkan, apalagi sampai berjam-jam. Karena itu, tantangan bagi seorang penyiar radio adalah bagaimana membawakan acara yang mengakomodir kesibukan orang sekaligus juga membuat mereka selalu kembali ke gelombang yang sama untuk mendengarkan kita siaran. Salah satu resep paling ampuh adalah untuk “melihat program sebagai satu kesatuan yang utuh, tapi pada saat yang sama selalu berpikir dalam potongan kuadran”.
Saya mau mulai dulu dengan pertanyaan berikut: Apakah anda termasuk tipe penyiar yang menyempatkan waktu untuk membuat persiapan siaran (show prep) secara rinci? Jika jawabnya ya, maka salut! Entah anda seorang penyiar baru kemarin sore atau sudah puluhan tahun malang melintang di jagat radio, entah acara anda itu talk show yang menghadirkan orang-orang top atau hanya acara kirim-kiriman lagu, membuat show prep tetap merupakan sebuah kewajiban bagi seorang penyiar. Jangan pernah masuk ruang siaran dengan menenteng setumpuk CD plus beberapa lembar Koran dan berharap anda bisa siaran dengan maksimal.
Nah, dalam membuat persiapan siaran, biasanya kita melihat keseluruhan acara. Katakanlah anda siaran selama satu jam yang isinya adalah memutar dan membacakan request pendengar. (Ini acara yang paling dianggap tidak memerlukan ‘otak’ tapi kenyatannya sering ia paling banyak didengarkan orang dan tidak mudah untuk dibawakan). Tentu anda harus menanyakan berapa lagu yang harus disiapkan? Berapa iklan dan trailer yang harus diputar? Berapa waktu yang diperlukan untuk membacakan request? Berapa jumlah penelpon yang akan kita terima? Informasi lain apa yang harus dibacakan? Dari situ kita bisa dapat gambaran secara utuh dari acara kita dan bisa kita petakan agar tersebar lebih merata.

Saya biasanya selalu menggunakan apa yang disebut format clock untuk membantu melihat sebuah acara secara keseluruhan. Ambil contoh sebuah acara request yang berdurasi 1 jam maka format clock nya misalnya seperti gambar di bawah ini.
timeclock1.jpg
Secara fisik nampak apa yang akan kita lakukan, kapan putar iklan, kapan bicara dan lain sebagainya, lengkap dengan patokan waktunya. Dari situ kita bisa menuangkannya dalam bentuk skrip siaran jika memang diperlukan agar siaran kita jadi lebih terkesan rapi.

Berpikir Dalam Kuadrant
Masalah yang sering muncul ketika kita membuat perancangan siaran seperti di atas adalah kita sering berasumsi bahwa pendengar pasti akan mendengarkan selama satu jam penuh program yang sudah kita siapkan. Kenyataannya? Tidak! Walau mungkin ada yang memang benar-benar pendengar setia, tapi di jaman serba sibuk ini kita gampang teralih perhatiannya kepada hal lain.
Karena itulah tantangannya adalah bagaimana menjaga agar ketika seseorang menyetel gelombang radio kita, tanpa harus mendengarkan selama satu jam ia bisa mendapatkan gambaran utuh tentang acara kita itu.
Maksudnya begini. Bayangkan seseorang mulai mendengarkan persis pada saat pemutaran iklan. Meski iklan penting, tapi berani taruhan dia nyaris tidak akan tertarik. Saat itulah ia punya waktu beberapa saat untuk pindah ke gelombang lain. Bisa jadi ia langsung pindah, tapi bisa jadi ia akan menunggu sampai iklan selesai. Nah, bayangkan ketika iklan yang anda mainkan itu sampai makan waktu katakanlah 4-5 menit. Dijamin pendengar akan langsung memindahkan gelombang. Hal yang sama juga terjadi pada obrolan atau lagu, dan bukan saja iklan.
Nah, dengan format clock, penyebaran iklan, lagu, obrolan dan lain sebagainya bisa lebih tertata rapi dan kita bisa melihatnya secara utuh dalam upaya untuk menjaga perhatian pendengar.
Langkah berikutnya tentu saja adalah melihat gambaran itu dalam dalam quadrant atau per seperempat jam. Kita asumsikan bahwa dalam seperempat jam itu, pendengar tidak melulu mendengarkan lagu atau iklan atau obrolan tapi semuanya. Dengan cara itu diharapkan dalam seperempat jam seorang pendengar sudah dapat gambaran utuh tentang acara kita dan tertarik untuk mengikuti selanjutnya
.
Secara tidak langsung, dengan cara ini pula kita mendidik pendengar untuk tahu kapan dia harus meninggalklan radio kalau sibuk, kapan harus kembali untuk mendengarkan. Misalnya ketika dalam seperempat jam pertama, sang penyiar bicara selama lima menit dan requestnya tidak dibacakan, maka di bisa berharap untuk kembali mendengarkan di perempat jam berikutnya karena dia sudah tahu ancer-ancer dimana penyiar biasanya akan mengoceh. Logika yang sama juga misalnya terjadi pada lagu, dimana dia sudah tahu kira-kira kapan penyiar memutar lagu.
Nah, sekarang coba kita buat diagram di atas tadi dalam bentuk quadrant. Masihkan setiap quadrant mewakili semua unsur siaran kita selama satu jam?
timeclock2.jpg
Semoga tips berpikir dalam quadrant ini berguna. Ringkasnya, dalam seperempat jam itu pendengar akan memperoleh gambaran tentang seperti apa acara kita dan semoga bisa menjaga agar mereka terus setia pada acara kita. Paling tidak agar mereka mau kembali lagi mendengarkan acara kita.
Paling akhir saya mau berbagi nasehat, tepatnya omelan yang pernah saya terima. Saya sampai sekarang selalu teringat nasihat seorang penyiar senior yang pernah memarahi saya karena pernah satu kali saya ngoceh di udara sampai hampir 10 menit tenpa jeda karena merasa asik sendiri dan merasa bahwa obrolan itu lucu dan menarik. Dengan ketus dia bilang begini. : “Elu tuh siaran buat pendengar, bukan buat diri elu sendiri. Kalau mau siaran buat diri sendiri, elu rekam aja suara elo sendiri pake compo terus dengerin di rumah..” hehe..
Salam,
Berfikir Dalam Kuadran Berfikir Dalam Kuadran Reviewed by DESTANA on 11.05 Rating: 5

Tidak ada komentar:

ads 728x90 B
Diberdayakan oleh Blogger.